Keeping Love Again ~01~

Sesaat berbaring merebahkan diri di kursi goyang santai, Myori mulai mengutak-atik handphone-nya. Menggeser-geser jari jemari mungilnya di layar handphone  sampai akhirnya terdengar alunan lagu di sela-sela stereo handphonenya. Terlihat di layar handphone judul lagu SHINee-Start. 

“Hhhhh…. Apa kabar ya Kibummie? Aku rindu padanya.”

Hening panjang saat lagu terus di putar ulang dengan memilih pengaturan ulang lagu yang di putar oleh Myori. Myori mendekatkan stereo handphone-nya ke telinga kanannya. Seakan menegaskan dibagian mana terdengar suara Kibum mengalun indah. Kibum mempunyai suara yang cukup khas di antara mamber SHINee lainnya. Saking khasnya setiap teriakan Kibum jikalau membentak Taemin, Myori yang tinggal bersebelahan letak apartemennya dengan SHINee selalu mendengar suara Kibum melengking tak karuan. Kalau sudah begitu, Myori biasanya menghubungi Kibum dan bilang secara bisik pelan kalau dia terganggu dengan teriakan Kibum. Kibum yang tidak mau begitu saja disalahkan selalu secara mengejutkan memencet bell apartemen Myori dan menerobos masuk ke apartemen Myori lalu tertidur di ruang televisi hingga pagi, hingga Kibum mencium bebauan kopi semerbak membaukan apartemen Myori.

“Sudahlah! Ya! Myori!”, dengan sigap Myori beranjak dari kursi goyangnya yang sudah sedari tadi diam karena tak terus digoyangkan oleh Myori.

“Bukkkk…..”

Suara bantal Hello Kitty pemberian Kibum yang cukup besar jatuh dari buffet hias di ruang televisi. Myori kaget, menoleh ke belakang dan mendapati boneka itu tersungkur di karpet. Batin Myori terasa tidak baik melihatnya, Myori langsung jalan cepat menyelamatkan boneka yang hampir setinggi pinggulnya itu. Sambil menepuk-nepuk hidung bagian Hello Kitty, Myori melihat teliti.

“Ada apa ya? AC tidak ku hidupkan terlalu besar. Kibum? Ah…. Tidak, jangan sampai,” Myori sedikit panik.

“Tenang Myori! Berfikir yang baik! Dia pasti baik-baik saja!”

Myori menaruh boneka di sofa tempat biasa Kibum melarikan diri dari apartemen setelah marah-marah dengan penghuni apartemen SHINee lainnya. Myori tersenyum.

“Lebih baik aku masak, daripada memikirkan dia yang tidak akan memikirkanku lagi,” tanpa di sadari sedikit air mata mengalir dari mata bulatnya. Myori perlahan menyeka air mata itu dan menuju dapur mungilnya.

***FLASHBACK***

Sebelum SHINee melaksanakan tour panjang di Jepang dari akhir April lalu, sejak saat itu pula Myori terakhir kalinya bertemu dengan Kibum. Sebelum keberangkatan Kibum ke Fukuoka, malamnya Myori sempat menemani Kibum belanja di supermarket terdekat dari apartemen mereka. Perjalanan dari supermarket ke apartemen lumayan cukup membuat cerita di antara Kibum dan Myori. Sesekali mereka bergurau, tertawa terbahak, memberikan penghormatan ke setiap pengguna jalan yang berpapasan dengan mereka dengan bersamaan,  berangkulan, bahkan hal yang tidak dilupakan Myori sampai detik tadi *sebelum Flashback*.

Kibum sempat mengahangatkan tangan Myori di saku jaket tebalnya. Hampir tengah malam memang mereka berjalan berdampingan seperti itu.

“Ya! Kau harus melihatku di Catch Me If You Can awal Mei nanti! Aku menginginkan kau datang dan melihat pertunjukkan ku!”

Kibum benar-benar semangat mengajak Myori dengan tatapan dalam ke mata bulat Myori.

“Hmm, aku tidak bisa janji padamu. Akhir-akhir ini coffe shop ramai pembeli, semoga saja aku tak lembur sampai tengah malam. Aku akan usahakan….”, ucap Myori sambil tersenyum hangat menatap balik Kibum lalu secepatnya menghindari tatapan mata dengan Kibum.

“Yah…..” Kibum lemas mendengar pernyataan Myori yang tak berani memberikan janji agar melihatnya di Catch Me If You Can.

Myori yang tangannya penuh dengan kantung belanjaan di kanan-kiri, akhirnya Kibum menyadari jikalau Myori terlihat lelah dengan banyaknya kantung belanjaan di tangannya.

“Sini aku bantu,” Kibum meraih kantung belanjaan dari tangan kiri Myori yang berisikan bahan-bahan masakan, seperti minyak, kopi, gula dan bumbu dapur yang sengaja dibeli banyak oleh Myori karena memang Myori gemar memasak.

“Ahhhh, tidak perlu, aku masih kuat membawanya,”

“Masih kuat? Kalau kau tak kuat kau akan merebahkan kantung belanjaanmu dimana saja?!” tanya Kibum tegas sambil tetap memaksa kantung belanjaan yang dipegang Myori dari tangan kirinya. Akhirnya Myori dengan terpaksa dan mengeluarkan mimik muka bersalah melepaskan kantung belanjaannya ke tangan Kibum yang tak kalah penuhnya.

Kibum merapihkan beberapa kantung belanjaan miliknya agar disatukan dengan kantung belanjaan Myori yang lumayan besar. Karena  Kibum hanya belanja makanan ringan dan keperluan mendadak untuk beberapa saat tinggal di Jepang dalam rangkaian tour SHINee, jadi kantung yang Kibum pegang sedari tadi lebih enteng dibanding kantung belanjaan Myori.

Myori tersenyum melihat tingkah Kibum, saat sedang tersenyum melihatnya Kibum perlahan mengambil tangan kiri Myori dan menggenggam pergelangan tangan Myori lalu perlahan dimasukkan ke kantung jaket tebal hangatnya Kibum.

Mwo?”, Myori melihat nyinyir ke arah Kibum dengan tingkahnya yang tampaknya tak biasa dilakukan antara mereka berdua seperti itu.

“Biar kau hangat, udara semakin larut semakin dingin, jangan banyak bergerak. Kantung belanjaanmu nanti berjatuhan,” Kibum menggenggam tangan Myori di dalam saku jaket hangatnya.

“Hhhhhh….,” Myori mengeluarkan desahan yang membuatnya capek melihat tingkah Kibum yang terlalu ‘beda’ untuknya malam itu.

“Nah! Coba lihat! Kepulan asap dari hidungmu! Bagaikan banteng mendengus!” ledek Kibum.

“Ya! Ya! Ya! Kalau aku banteng  kau apa?!” tanya Myori ketus.

“Aku bagaikan penyemangat banteng dengan menghentangkan bendera berwarna pink….” ucap Kibum datar.

“Cih! Mana ada banteng terpesona nyeruduk bendera warna pink!” ketus Myori sambil berjalan lebih cepat meninggalkan Kibum.

“Ya! Kau ini! Kan kau selalu terpesona padaku!!!” Kibum tak mau kalah dari Myori dan berlari kecil mengejar langkah Myori yang sengaja dipanjangkan agar jalan cepat meninggalkan Kibum.

~sesampainya di apartemen~

“Hah! Hah! Hah!” Myori melangkahkan kaki sambil mendengah di tangga loby apartemen mereka.

“Capek kan? Kau hanya membawa belanjaan segitu saja sudah segitu lelahnya. Payah!” ledek Kibum sambil memencet tombol pintu lift ke atas.

“Hehehe…. Aku kan tadi mengejarmu!” bela Myori.

“Aku lari! Kau bahkan tak sampai menyentuh belanjaan di tanganku! Payah payaaaaah!” ledek ketus Kibum.

“TING!~” pintu lift terbuka. Kosong.

“Yasudah!!!!” ketus Myori sambil menyerobot Kibum yang hendak memasuki lift terlebih dahulu.

“Lihat! Si Banteng lagi marah…..”

“Aku tak suka! Jangan memanggilku banteng!” tegas Myori sambil menatap Kibum ketus.

“Lalu apa? Yeobo? ekekeke”

Kali ini Myori terdiam, terdiam mendengar ucapan Kibum seperti itu, dan terdiam merasakan degup jantungnya berkali-kali lipat mendegupkan dan menyesakkan dadanya dalam sekejap.

“TING!~” pintu lift terbuka. Kosong. Sampailah di lantai 8. Myori masih diam.

“Ya! Kau mau turun tidak?!” tanya galak Kibum yang sudah berdiri di depan pintu lift sambil menahan tombol yang ada di samping pintu lift, agar lift tidak tertutup sebelum Myori keluar dari pintu lift tersebut.

“Ah….. Sebentar!” Myori berlari meninggalkan lift.

“Kau kenapa? Badanmu kurang sehat? Kenapa jadi hilang banyak tingkahmu itu? Kau jadi terdiam seperti ini….” tanya Kibum sambil merogoh tas kecilnya mencari kunci sensor apartemen Myori yang dititipkan di tasnya.

“Tidak, aku tidak apa-apa. Mana kuncinya? Aku saja yang buka.”

“Sudaaaah, kau telat.” Kibum sudah menempelkan kunci sensor di pintu apartemen Myori lalu masuk terlebih dahulu ke apartemen mungil nan imut tersebut.

“Aku ingin menginap malam ini di sini. Kau bangunkan ku lebih cepat esok pagi. Ah, aku akan membawa selimut dari apartemen SHINee, daripada aku kedinginan dibiarkan tak beselimut di ruang tamu. Belanjaanku aku ambil ya, sebagian ada titipan makanan ringan Taemin, aku ganti baju dulu dan merapihkan beberapa baju untuk besok pagi.” jelas panjang lebar Kibum.

“Untuk fashion show di Bandara? Kikikik” Myori meledek Kibum sambil merapihkan belanjaannya di dapur.

“Iya! Aku bawa kunci mu ya!”

Kibum berlari keluar dari apartemen mungil Myori dan menutup kencang pintu apartemen tersebut.

“Belum lunas tempat tinggalku ini! Kenapa harus dibanting-banting seperti itu ha? Apa karena aku mirip banteng? Ha?! Gara-gara suka mendengus dibilang mirip banteng?! Dasar jidat!” umpat Myori pada belanjaan yang sedang ia tata rapih di kulkas.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~CHAPTER 2~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s